Hukum  

Aksi Damai… Jaksa Agung Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M untuk mundur dari jabatannya!!!

banner 120x600

Wartasidik.co — Jakarta

Alvin Lim dijemput paksa jaksa saat berada di Bareskrim dan langsung ditahan di Rutan Salemba, Selasa (18/10/2022) malam. Ini terkait putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam banding kasus dugaan pemalsuan dokumen. 

Hari ini Senin 24 Oktober 2022, sekitar pukul 10 ratusan masyarakat yang terdiri Dari Advokat, wartawan, lsm Dan Elemen masyarakat memenuhi jalanan gedung Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung RI untuk meminta Keadilan.

III Baca Juga :

Miris… Kinerja Propam Polda Lampung “Sewenang-wenang” Kasus Dian Karis Korban Penganiayaan disertai Pengeroyokan Belum di Tuntaskan

Cegah Pungli !!! Kapolri Larang Polantas Tilang Manual

Aksi Damai Kali ini sangat unik karena putri tunggal Pengacara vokal Alvin Lim yang dieksekusi sebelum putusan InCracth yang mana Diduga melanggar SEMA tahun 1985 karena Alvin Lim sebelumnya telah lepas demi hukum Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sehingga seharusnya menunggu putusan MA.  

Kate Victoria Lim Putri Alvin Lim Minta Keadilan Di Mahkamah Agung Dan Kejagung RI

Kate Victoria Lim menunjukkan kedewasaan Dan keberanian diluar, sehingga mempesona pengunjung Dan masyarakat yang melihat aksi Damai. Kate di atas Mobil komando mengumandangkan “Bebaskan Alvin Lim! Dimana Keadilan bagi masyarakat? ” ucap Kate dengan lantang. 

Kate Dalam keterangan pers mengungkapkan sulitnya mendapatkan keadilan bagi masyarakat, dimana Hukum hanya dimiliki oleh orang berduit dan berkuasa.

Kuasa hukum Alvin Lim dari LQ Indonesia Lawfirm, Saddan Sitorus memprotes penahanan kliennya. Sebab menurutnya hingga tadi malam, pihaknya belum menerima salinan putusan banding tersebut. Saddan justru mengetahui surat putusan dari pihak Rutan Salemba. 

“Kami mempertanyakan proses penahanan kejaksaan, karena sampai sekarang kami belum mendapatkan apa yang dimaksud dalam putusan tersebut,” ujar Saddan di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin 24 Oktober 2022.

Tetapi kami tadi sudah membaca pihak lapas, ada di poin 6, bahwa terdakwa harus ditahan,” imbuhnya. 

Saddan mengaku aneh dengan bunyi dari putusan tersebut. Sebab  sepengetahuannya, putusan Pengadilan Tinggi DKI hanya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dimana tak disebutkan adanya perintah penahanan. 

“Tapi dalam hal ini ada penambahan frasa (penahanan Alvin Lim),” ucapnya. 

“Saya minta agar Mahkamah Agung sebagai benteng terakhir pencari Keadilan dapat menegakkan Hukum dengan Rasa keadilan. Dua pelaku utama divonis 2.5 tahun, tapi papa saya yang Katanya ikut Serta malah Di vonis 4.5 tahun. Dimana keadilan? Hukum sangat tajam ke papa saya, tapi tumpul Ke oknum pejabat seperti Jaksa Pinangki hanya vonis 4 tahun.

Sebelumnya Advokat Alvin Lim ditahan kejaksaan terkait dugaan ikut Serta pemalsuan ktp Karena memberikan Alamat kantor hukumnya Ke pelaku utama. Dimana alamat kantor digunakan untuk buat ktp palsu dan merugikan Allianz sejumlah 6 juta rupiah atas klaim rumah sakit. Kate menduga bahwa hal tersebut adalah rekayasa oknum tertentu yang terganggu atas suara vokal ayahnya.

Lanjut Saddan, mempertanyakan urgensi penahanan Alvin. Ini mengingat, Alvin bukanlah seorang mafia, penjahat besar apalagi teroris. Justru kontribusi Alvin dalam mereformasi dunia penegakan hukum, menurutnya sangat signifikan. 

“Alvin Lim ini bukan teroris yang harus dilakukan dengan sangat-sangat menarik perhatian. Kita ketahui Alvin Lim adalah lawyer yang vokal dalam beberapa hal mengkritisi tatanan pemerintahan, tatanan hukum yang sekarang memang harus diperbaiki. Jadi sebenarnya negara sangat beruntung memiliki Alvin Lim, karena Alvin Lim memberikan nuansa baru dalam penegakan hukum yang ada,” tuturnya. 

Banyaknya jaksa yang ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan, kembali menunjukkan kegagalan Jaksa Agung Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M.  dalam memimpin Kejaksaan. Burhanuddin sebagai jaksa agung gagal melakukan pengawasan dan mendorong perbaikan di internsl kejaksaan. Kejaksaan tetap menjadi lembaga yang dipersepsikan korup oleh publik.

kliennya. Dia divonis maksimal 4.5 tahun, sementara pelaku utamanya di kasus ini cuma 2,5 tahun karena Alvin Lim sebelumnya telah lepas demi hukum Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sehingga seharusnya menunggu putusan MA.

Terbukti lebih dari satu dekade reformasi kejaksaan dimulai, agenda reformasi masih belum dapat membangun birokrasi yang birokrasi yang bersih, transparan dan akuntabel. Justru dibawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M yang membuat citra kejaksaan semakin memburuk.

Di sisi lain, fungsi kontrol terhadap para Jaksa melalui kerja Komisi Kejaksaan maupun tim pengawasan internal jaksa, masih minim perannya dalam menindak jaksa-jaksa nakal. Padahal, peran kontrol sekaligus evaluasi dari kerja-kerja jaksa yang menjadi salah satu peran yang paling menentukan kualitas jaksa dan kinerja kejaksaan secara umum.

Karenanya kami mendesak agar :

Jaksa Agung Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M untuk mundur dari jabatannya sebagai Jaksa Agung karena dianggap telah gagal memimpin Korps Kejaksaan melaksanakan kerja reformasi birokrasi di lingkungan Kejaksaan.

Pengawas internal Kejaksaan dan Komisi Kejaksaan harus meningkatkan fungsi pengawasan dan kontrol terhadap kerja-kerja jaksa dan lebih proaktif dalam menindaklanjuti laporan terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan jaksa.

google-site-verification: googlec75ebfe9ccca2f62.html