Breaking News

ATHIA Tantang Media PETIEMASSUMATERA.COM: Tunjukkan Sumber, Siapa Penulis, Verifikasi dan Buktikan Narasi Pembacokan

Redaksi

Wartasidik.co — Kuantan Singingi

Persoalan pemberitaan mengenai keributan di kediaman ATHIA di Kelurahan Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, kembali menjadi sorotan.

ATHIA mempertanyakan profesionalitas pemberitaan media online yang sejak 25 Agustus 2026 mengangkat narasi berjudul “Ajak Liput Kafe Remang-Remang Berujung Pembacokan, Anggota Jurnalis Laporkan Rekan Sendiri ke Polres Kuansing.

Persoalan utamanya bukan keberatan terhadap kerja pers, melainkan dugaan penyajian informasi secara sepihak sebelum seluruh pihak yang disebut dalam berita memperoleh kesempatan memberikan klarifikasi.

Salah satu media yang disorot adalah PETIEMASSUMATERA.COM. Pada bagian redaksi media tersebut tercantum nama Rusman sebagai Ketua Umum disertai foto yang bersangkutan. Sementara berita yang dipersoalkan tidak mencantumkan nama penulis maupun sumber berita secara jelas dan ditutup dengan tanda (***).

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab secara jurnalistik atas materi pemberitaan tersebut. ATHIA menegaskan bahwa tidak menuduh Rusman sebagai penulis berita, tetapi meminta persoalan tersebut dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi.

Kalau memang bukan yang bersangkutan penulisnya, jelaskan siapa penulis dan sumber beritanya. Kalau ada kekeliruan, koreksi. Persoalan jurnalistik seharusnya diselesaikan secara jurnalistik,” tegas ATHIA.

ATHIA juga menyoroti pemberitaan TURIANISURA.COM yang menurutnya memuat judul dan substansi serupa. Ia mempertanyakan dasar verifikasi terhadap sejumlah klaim dalam pemberitaan, termasuk narasi mengenai pembacokan menggunakan parang.

ATHIA Bersama keluarga yang mengaku berada di lokasi sejak awal peristiwa menyatakan tidak melihat adanya pembacokan menggunakan parang. Menurut versinya, keributan justru bermula dari perselisihan internal antara Heppynes Hia dan Sekagesima Hia yang kemudian berkembang menjadi aksi menggunakan telepon seluler, meninju dan kursi kayu.

Kejadian tersebut, Aturan Hia alias ATHIA Bersama keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk menentukan bagaimana luka masing-masing pihak terjadi berdasarkan keterangan saksi, bukti, pemeriksaan medis, serta hasil penyelidikan.

Jangan dugaan diberitakan seperti kesimpulan. Kalau memang pembacokan terjadi, tunjukkan bukti dan dasar faktanya,” katanya.

Sorotan ATHIA semakin menguat setelah olah TKP baru dilakukan penyidik Polres Kuantan Singingi pada 2 September 2026. Menurut ATHIA, hingga 7 September belum terdapat fakta objektif yang ditunjukkan kepadanya yang membuktikan narasi pembacokan menggunakan parang sebagaimana diberitakan sebelumnya.

Ia juga mempertanyakan belum diperolehnya SP2HP terkait laporan Sekagesima Hia maupun hasil visum yang dilakukan di RSUD Teluk Kuantan oleh pihak keluarga.

Bagi ATHIA, perbedaan antara klaim, dugaan, keterangan pihak, hasil penyelidikan dan fakta yang telah terbukti harus dijaga secara tegas dalam pemberitaan. Ia juga meminta aparat penegak hukum memeriksa seluruh pihak secara objektif, termasuk pelapor, terlapor dan saksi yang berada di lokasi.

Biarkan penyidik bekerja. Biarkan bukti berbicara. Jangan media mengambil alih fungsi pembuktian,” tegasnya.

ATHIA menegaskan tidak menolak kebebasan pers. Ia justru meminta media menjalankan fungsi kontrol sosial dengan tetap memegang prinsip akurasi, keberimbangan, verifikasi dan hak jawab.Ia juga meminta media yang telah memuat namanya maupun nama anggota keluarganya memberikan ruang klarifikasi karena terdapat narasi yang dipersoalkan.

Sementara itu, terkait dugaan bahwa PETIEMASSUMATERA.COM berada di bawah kepemimpinan Rusman, ATHIA meminta persoalan tersebut tidak berhenti pada dugaan. identitas penulis, sumber informasi dan proses verifikasi berita seharusnya dapat dijelaskan secara terbuka apabila pemberitaan tersebut memang dipertanggungjawabkan secara jurnalistik., pungkas ATHIA.

Penulis: Red Editor: Redaksi WS