Breaking News

RSUD Bakti Pajajaran Cibinong Hadirkan Layanan DSA

Redaksi - 01

Wartasidik.co — Bogor

RSUD Bakti Pajajaran terus memperkuat layanan kesehatan unggulan melalui pemanfaatan teknologi medis modern, salah satunya Digital Subtraction Angiography (DSA), untuk membantu pemeriksaan dan penanganan gangguan pembuluh darah otak. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat mendekatkan akses pelayanan kesehatan berteknologi tinggi bagi masyarakat Kabupaten Bogor, sehingga pasien tidak selalu harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.

Di tengah upaya penguatan layanan tersebut, masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala stroke sejak dini. Sebab, stroke dapat terjadi secara mendadak dengan gejala berupa kebas pada satu sisi tubuh, kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, hingga gangguan penglihatan.

Dokter spesialis neurologi, dr. Haris Murdianto, Sp.N, menjelaskan bahwa kemunculan gejala secara tiba-tiba menjadi salah satu tanda penting yang perlu diwaspadai masyarakat.

Menurutnya, gejala stroke dapat berupa kebas atau kesemutan pada satu sisi tubuh, mulai dari wajah, tangan, hingga kaki. Selain itu, penderita dapat mengalami kelemahan atau kelumpuhan mendadak, kesulitan berbicara, serta gangguan penglihatan.

“Gejala stroke itu banyak. Namun, hal utama yang harus kita garis bawahi adalah terjadinya secara mendadak. Misalnya, tiba-tiba mengalami kebas pada satu sisi tubuh, mulai dari wajah, tangan, sampai kaki,” jelas dr. Haris.

Ia menerangkan, kebas dapat dirasakan seperti kesemutan atau sensasi tebal pada bagian tubuh tertentu. Gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain tubuh mendadak sulit digerakkan, bicara menjadi cadel atau tidak jelas, serta kehilangan kemampuan melihat. ujarnya saat ditemui diruangan poli eksekutif Azalea. Kamis (22/10/3/2026).

“Pokoknya, yang harus digarisbawahi adalah tiba-tiba,” tegasnya.

Dr. Haris menjelaskan bahwa stroke berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otak. Karena menyerang organ tersebut, gejala yang muncul dapat memengaruhi fungsi tubuh, termasuk gerakan dan kemampuan berbicara. Gejala yang dialami bergantung pada bagian otak yang terdampak.

Gangguan pembuluh darah otak juga dapat terjadi saat seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk ketika berolahraga. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa stroke dapat terjadi secara mendadak dan tidak boleh dianggap sepele.

Apabila seseorang mengalami kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, atau gangguan penglihatan, keluarga maupun orang di sekitarnya harus segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Kecepatan penanganan menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kecacatan akibat stroke.

Tindakan DSA Tetap Memiliki Risiko

Selain menjelaskan pentingnya pengenalan gejala stroke, dr. Haris juga memaparkan bahwa setiap tindakan medis memiliki risiko dan tidak dapat dijamin aman 100 persen, termasuk tindakan yang berkaitan dengan pembuluh darah otak.

Ia menyebutkan, berdasarkan penjelasannya, kemungkinan kegagalan tindakan secara teori berada pada kisaran 0–1 persen. Risiko tersebut tidak selalu berkaitan dengan kesalahan manusia atau human error, tetapi dapat dipengaruhi kondisi pembuluh darah pasien.

Misalnya, pembuluh darah yang sudah rapuh atau adanya banyak sumbatan pada jalur yang akan dilewati saat tindakan dapat meningkatkan tingkat kesulitan prosedur.

“Secara teori, setiap tindakan memang tidak 100 persen aman. Kemungkinan kegagalannya sekitar 0 sampai 1 persen. Hal itu bisa terjadi karena kondisi pembuluh darah pasien yang sudah rapuh atau jalur pembuluh darah yang akan dilewati mengalami banyak sumbatan,” jelas dr. Haris.

Ia menambahkan, penjelasan mengenai risiko perlu disampaikan kepada pasien sebelum tindakan dilakukan sebagai bagian dari edukasi dan persetujuan medis. Risiko yang dimaksud dapat mencakup kemungkinan kematian maupun kecacatan.

Ketika ditanya mengenai keberhasilan tindakan yang telah dilakukannya selama ini, dr. Haris mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya, hingga saat wawancara belum ada kejadian kegagalan yang ia temukan.

“Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada, Pak. Mudah-mudahan ke depannya juga demikian,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemahaman pasien terhadap manfaat, risiko, dan kemungkinan komplikasi tetap menjadi bagian penting sebelum prosedur medis dilakukan.

Melalui penguatan layanan DSA dan edukasi mengenai gejala stroke, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya deteksi dini serta penanganan medis yang cepat dan tepat. Kehadiran layanan tersebut juga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat Kabupaten Bogor terhadap pemeriksaan dan penanganan gangguan pembuluh darah otak.

Penulis: EPFEditor: Redaksi WS